Rabu, Agustus 05, 2015

Dear Mama

Begitu cepat waktu berlalu.
Kadang aku masih suka menanggap diriku sendiri sebagai anak kecil,
yang masih ingin banyak bermain.
Namun segera setelahnya aku tersadar ketika melihat ke seberang jalan itu.
Banyak sekali anak-anak di sana.
Aku sadar, aku bukan bagian dari mereka lagi.
Aku telah lebih tua, dan jauh lebih tua dari mereka.
Kejam sekali waktu.

Mama..
Usia ku bukan kanak-kanak lagi
Namun aku tahu, di matamu aku tetaplah seorang anak kecil.
Betapa pekat kasih sayang yang kau berikan manakala setiap aku pulang dari perantauan. Kau selalu menyuguhiku dengan berbagai aneka macam santapan yang tidak pernah bisa aku temukan di luar sana.

Saat itu mungkin kau tak tahu, bahwa aku sempat meneteskan air mata yang jatuh tepat di tepian piring kupat tahu yang kau sajikan. Namun ku sembunyikan. Aku bersyukur masih bisa merasakan kasih sayangmu. 

Mama..
Usiaku hampir 22 beberapa waktu lagi.
Walaupun mungkin kau tak pernah tahu ataupun mengingat kapan tanggal lahirku, itu tak masalah bagiku.

Di usiaku sekarang, dari kejauhan ini, aku ingin meminta maaf kepadamu. Aku belum bisa sepenuhnya membahagiakanmu. Aku belum bisa jadi kebanggaan di masa tua mu. Aku belum bisa berbakti. Yang aku berikan belum ada apa-apanya dan tak akan pernah bisa membalas  semua bentuk kasih sayangmu.
Namun aku selalu menyelipkan namamu di setiap doaku kepada Allah.
Semoga Allah senantiasa melindungi dan menyayangimu.

Mama.. kini kamarku telah teratur dengan rapi. 
Dalam waktu yang lama mungkin, Hingga debu-debu dengan tenang bersarang.
Tak ada lagi riuh suara gaduh ku di sana.
Tak usahlah kau cari aku lagi setiap sore.
Tak usah pula lah kau pertanyakan kemana kakiku akan melangkah.
Karena aku tahu jalan pulang, Mama.
Dan doakan aku mama. Aku akan pulang membawa sekantong kebahagiaan untukmu.
Terima kasih Mama.